Saturday, January 31, 2026
HomeArtikelSpirit Wahyu: Tegas Tanpa Kehilangan hati

Spirit Wahyu: Tegas Tanpa Kehilangan hati

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah.”

(QS. An-Nisā’: 135)

Ada satu fase dalam kepemimpinan ketika kelembutan, yang selama ini menjadi kekuatan, terasa tidak lagi memadai. Bukan karena kelembutan itu salah, sebab ia tetap harus menjadi ruh kepemimpinan. Melainkan karena amanah juga menuntut ketegasan.

Di titik inilah banyak pemimpin tergelincir. Ketegasan perlahan berubah menjadi kekerasan, dan prinsip yang seharusnya dijaga justru menjelma menjadi pembenaran ego.

Wahyu datang memberi garis lurus yang jernih, yaitu agar tegak di atas keadilan. Bukan di atas perasaan, bukan pula di atas kepentingan pribadi atau kelompok. Tegaslah dalam kebenaran, tetapi tetap jujur pada nurani.

Dalam Islam, keadilan bukan sekadar produk keputusan organisatoris; ia adalah ibadah, kesaksian moral dan spiritual yang dipersembahkan kepada Allah. Karena itu, menjadi adil bukan pilihan tambahan bagi seorang pemimpin, melainkan karakter inti yang menentukan nilai amanahnya.

Ayat ini terasa sangat hidup ketika dihadapkan pada realitas. Musyawarah Daerah Gabungan (Musdagab) VI Hidayatullah se-Sulawesi Tengah yang baru saja digelar menjadi salah satu cermin.

Seperti musyawarah manusia pada umumnya, ada yang pulang dengan hati lapang, ada pula yang masih menyimpan ganjalan. Keputusan kolektif tidak selalu mampu memuaskan semua pihak. Bahkan, mungkin tidak pernah ada satu keputusan pun yang bisa menyenangkan setiap hati secara bersamaan.

Namun justru di sanalah makna kepemimpinan diuji.

Musyawarah bukan tentang siapa yang paling diuntungkan, melainkan tentang bagaimana amanah dijaga dengan sejujur-jujurnya. Ia bukan arena menang dan kalah, tetapi ikhtiar menghadirkan kebaikan bersama di tengah keterbatasan manusia. Proses telah ditempuh.

Pikiran dicurahkan, tenaga dikerahkan, argumen dipertukarkan, dan doa dipanjatkan, agar organisasi melangkah dengan pilihan terbaik yang mungkin diambil pada masanya.

Dalam praktik kepemimpinan, ada saat-saat ketika keputusan yang diambil terasa berat bagi sebagian pihak. Ada yang kecewa, ada yang tersinggung, bahkan ada yang memilih menjaga jarak. Pada momen seperti itu, hati seorang pemimpin mudah goyah.

Pertanyaan-pertanyaan batin pun muncul. Apakah keputusan ini terlalu keras, atau justru terlalu lunak? Apakah keadilan benar-benar telah ditegakkan, atau ada nurani yang terabaikan?

Di titik inilah wahyu kembali meneguhkan arah, yaitu “menjadi saksi karena Allah.”

Bukan karena pujian manusia. Bukan karena tekanan mayoritas. Bukan pula demi menjaga citra diri atau posisi. Melainkan karena keyakinan bahwa setiap keputusan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya.

Kepemimpinan, pada akhirnya, adalah keberanian untuk berdiri di hadapan Allah dengan hati yang jujur, meski harus berjalan sendiri di hadapan manusia.

Kami sepenuhnya menyadari bahwa keputusan yang lahir dari musyawarah tidak pernah sempurna. Ada ruang yang terasa lapang bagi sebagian orang, dan terasa sempit bagi yang lain.

Tetapi satu hal patut disyukuri, bahwa ikhtiar telah ditunaikan dengan niat yang lurus. Dalam timbangan wahyu, Allah menilai kesungguhan dan kejujuran, bukan semata-mata hasil yang tampak di mata manusia.

Di sinilah perbedaan mendasar antara tegas karena iman dan keras karena emosi. Tegas yang lahir dari iman selalu disertai niat menjaga, bukan melukai; membina, bukan menyingkirkan. Ia mungkin terasa berat hari ini, bahkan menyisakan rasa yang belum selesai, tetapi insya Allah menenangkan kelak, ketika amanah dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Dalam perjalanan dakwah dan organisasi, saya belajar satu pelajaran penting. Bahwa tidak semua persoalan selesai dengan suara tinggi, dan tidak semua masalah tuntas dengan diam yang terlalu lama.

Ada waktu untuk menenangkan, ada waktu untuk memutuskan. Dan keduanya hanya akan bernilai jika lahir dari hati yang bersih dan komitmen pada keadilan.

Jika hari ini masih ada rasa yang tertinggal, semoga Allah menyempurnakannya dengan waktu. Jika ada kekecewaan yang belum reda, semoga dilembutkan dengan kelapangan dada. Dan jika amanah terasa semakin berat, semoga Allah menambahkan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan.

Sebab pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling disukai, melainkan tentang siapa yang paling adil dan paling siap bertanggung jawab di hadapan manusia, dan terlebih lagi di hadapan Allah.

Spirit Wahyu edisi ini memberi pelajaran beharga. Tegaslah dalam kebenaran tanpa kehilangan kelembutan hati. Tidak semua hasil musyawarah memuaskan semua orang, tetapi setiap ikhtiar yang adil dan jujur selalu bernilai di sisi Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Recent Comments