Saturday, January 31, 2026
HomeBeritaBerita DaerahMenemukan Kekuatan Sejati dalam Kalimat Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah

Menemukan Kekuatan Sejati dalam Kalimat Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah

KALIMAT laa hawla wa laa quwwata illa billah bukan sekadar wirid lisan, melainkan pengakuan eksistensial seorang hamba atas keterbatasannya di hadapan Allah.

Pesan inilah yang menjadi benang merah tausiyah Ustaz Dr. Muhammd Saleh Usman, S.S., M.I.Kom., Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, dalam kegiatan Mabit dan Mainstreaming Jati Diri serta Konsolidasi Organisasi DPD Hidayatullah Makassar, Kamis (1/1/2026).

Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta merenungi perjalanan hidup manusia yang kerap merasa kuat dan mampu. Manusia menyusun rencana, mengandalkan akal dan tenaga, lalu berjalan dengan keyakinan seolah kendali sepenuhnya berada di tangannya. Namun pada titik tertentu, manusia akan berhadapan dengan realitas yang tak mampu ia ubah.

Di situlah makna laa hawla wa laa quwwata illa billah menemukan relevansinya. Bahwa tidak ada daya untuk menolak keburukan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan, kecuali dengan pertolongan Allah.

Ustaz Sholeh menegaskan bahwa manusia hidup di tengah dua medan ujian. Dari luar, syaitan terus berupaya menyesatkan, sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh” (QS. Fathir: 6).

Namun, menurutnya, musuh yang paling berbahaya justru berasal dari dalam diri manusia sendiri, yaitu kesombongan. Penyakit hati yang halus ini membuat seseorang merasa lebih baik, lebih benar, dan lebih tinggi dari orang lain. Kesombongan pula yang pertama kali menjatuhkan Iblis.

Karena itu, orang beriman menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya sekaligus benteng hidupnya. Ia tidak hanya dibaca, tetapi direnungi dan dijadikan cermin diri.

Surat Al-‘Alaq, khususnya ayat “Dia menciptakan manusia dari segumpal darah” (QS. Al-‘Alaq: 2), menurutnya, bukan sekadar informasi penciptaan, melainkan teguran agar manusia tidak meninggi dan lupa asal-usul. Kesadaran akan asal kejadian manusia menjadi perisai dari kesombongan dan pintu menuju kerendahan hati.

Ia menekankan bahwa iman tidak pernah berdamai dengan kesombongan. Keduanya tidak akan bersatu dalam satu hati. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji zarrah” (HR. Muslim). Maka, semakin tinggi iman seseorang, seharusnya semakin tunduk dan lembut pula hatinya.

Lebih jauh, Ustaz Sholeh menjelaskan bahwa ketika Al-Qur’an dijadikan pedoman hidup, langkah manusia menjadi terarah dan visinya jelas. Ia mengutip kesaksian Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya tentang akhlak Nabi ﷺ, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an” (HR. Muslim). Artinya, cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi Nabi sepenuhnya dibimbing oleh wahyu.

Pada puncak kesadaran spiritual, manusia sampai pada pengakuan terdalam bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa. Allah menegaskan, “Dan kalian tidak menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah” (QS. At-Takwir: 29). Daya dan kekuatan, jelasnya, bukan semata kemampuan materi atau logika, melainkan pertolongan Allah yang menghidupkan hati dan meluruskan langkah.

Kesadaran ini menempatkan manusia pada posisinya yang hakiki, yaitu sebagai hamba dan sekaligus khalifah yang senantiasa membutuhkan bimbingan.

Karena itu, setiap hari dalam setiap shalat, manusia memohon, “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah: 6). Doa ini, menurutnya, adalah permohonan akan kejernihan berpikir, kelurusan analisa, dan keteguhan sikap mental dalam menjalani amanah kehidupan.

Dari kesadaran inilah lahir daya seorang pejuang. Daya yang bersumber dari hidayah dan ruh yang hidup, yang mendorong manusia untuk melanjutkan risalah para nabi.

Allah berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan kalian umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas manusia” (QS. Al-Baqarah: 143). Al-Qur’an menjadi mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ karena risalahnya tidak berhenti pada beliau, tetapi diteruskan oleh umat akhir zaman, manusia-manusia biasa pewaris risalah.

Ustaz Sholeh menutup tausiyahnya dengan menegaskan bahwa perjuangan Nabi ﷺ ditampilkan dalam wajah kemanusiaan: beliau terluka di Uhud, merasakan sedih, berkeluarga, beribadah di malam hari, dan tetap tegak sebagai hamba Allah.

Sebagaimana firman Allah, “Katakanlah: sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku” (QS. Al-Kahfi: 110).

Pesan intinya jelas. Bahwa manusia dapat berdaya dan berdampak bukan dengan menjadi sempurna, melainkan dengan meluruskan hati, menundukkan ego, serta meneladani cara berpikir dan mental para nabi, syuhada, dan orang-orang shalih. Dan pada akhirnya, seluruh perjalanan itu bermuara pada satu pengakuan yang membebaskan, laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Rep: Ahmad Sabil

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Recent Comments