Saturday, January 31, 2026
HomeBeritaDPW Hidayatullah Sulsel Tekankan Peran Masjid sebagai Pemersatu Umat dalam Forum Lintas...

DPW Hidayatullah Sulsel Tekankan Peran Masjid sebagai Pemersatu Umat dalam Forum Lintas Ormas

MAKASSAR (HidayatullahSulsel.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan menegaskan pentingnya menjadikan masjid sebagai ruang pemersatu umat Islam di tengah perbedaan yang ada.

Penegasan tersebut disampaikan Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Usatdz Dr. Muhammad Saleh Usman, M.I.Kom, saat menjadi pembicara dalam Dialog Silaturahmi Pencinta Masjid bertema “Menjadikan Masjid sebagai Wadah Pemersatu Umat” yang digelar di Resto Wong Solo Alauddin, Makassar, Sabtu pagi (4/1/2026).

Forum Dialog Silaturahmi Pencinta Masjid tersebut menjadi ruang temu lintas ormas dan institusi strategis Islam di Sulawesi Selatan. Sejumlah tokoh nasional dan daerah hadir sebagai pembicara, merepresentasikan spektrum keumatan yang luas, mulai dari unsur pemerintah, majelis ulama, hingga organisasi-organisasi Islam arus utama.

Di antaranya adalah Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulsel Dr. H. Ali Yafid, Sekretaris Umum MUI Sulsel Prof. Dr. H. Mummar Bakri, Ketua PWNU Sulsel Prof. Dr. KH. Hamzah, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sulsel Dr. Dahlan Lamawaba, serta Ketua DPW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulsel Mayjen TNI (Purn) Andi Mappanyukki.

Selain itu, forum ini juga menghadirkan Ketua ICMI Orwil Sulsel Prof. Dr. H. Arismunandar, Ketua DPP IMMIM Dr. KH. Ishaq Shamad, Ketua Umum PW DDI Sulsel Prof. Dr. H. Andi Aderus, perwakilan DPW Wahdah Islamiyah Muhammad Imran Yunus, serta pemerhati masjid A.M. Iqbal Parewangi.

Diskusi lintas elemen umat tersebut dipandu oleh Prof. Dr. Arifuddin Ahmad sebagai moderator, dengan suasana dialogis yang menegaskan semangat silaturahmi dan kolaborasi dalam memperkuat peran masjid sebagai simpul pemersatu umat.

Dalam paparannya, Ustadz Dr. Muhammad Saleh Usman menyampaikan bahwa diskursus tentang masjid tidak cukup berhenti pada aspek manajemen teknis, melainkan perlu diletakkan pada kerangka nilai-nilai dasar Islam. Ia membedakan antara prinsip-prinsip tsawabit (nilai yang tetap dan tidak berubah) dan mutaghayyirat (hal-hal yang dapat berubah mengikuti kondisi dan zaman).

“Dalam pengelolaan masjid, ada nilai-nilai yang tidak boleh berubah, tetapi ada pula aspek yang harus adaptif terhadap realitas sosial. Ketika keduanya tidak dipahami secara proporsional, masjid berpotensi kehilangan fungsi strategisnya sebagai pemersatu umat,” ujarnya.

Ia kemudian mengingatkan bahwa persatuan umat bukanlah perkara sederhana. Ustadz Muhammad Saleh Usman mengutip sebuah riwayat tentang doa Nabi Muhammad SAW yang memohon tiga hal kepada Allah SWT, di mana dua dikabulkan dan satu tidak, yakni permohonan agar umat Islam dipersatukan.

Menurutnya, hal itu menjadi isyarat bahwa ittihadul ummah merupakan agenda besar yang menuntut kesungguhan dan kesadaran kolektif.

“Sejarah juga mencatat, keberhasilan Rasulullah SAW dalam Fathu Makkah terjadi setelah beliau berhasil mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Ruang utama yang mempersatukan mereka adalah masjid,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Hidayatullah memandang masjid sebagai basis utama pendidikan dan dakwah. Di Sulawesi Selatan, Hidayatullah hadir dan beraktivitas di 24 kabupaten/kota dengan menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat.

Ustaddz Muhammad Saleh Usman juga mengajak seluruh elemen umat Islam untuk melakukan refleksi mendalam terkait akar persoalan sulitnya persatuan. Menurutnya, secara ritual umat Islam telah menunjukkan kesalehan yang kuat, namun dalam praktik sosial masih kerap terjebak dalam sekat-sekat identitas kelompok.

“Kita semua sepakat dengan ayat innamal mu’minuna ikhwah, tetapi mengapa masih mudah merasa lebih baik dari yang lain, baik secara personal, kelompok, bahkan institusi masjid,” ujarnya.

Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan pentingnya kembali pada fondasi awal wahyu Al-Qur’an, khususnya Surah Al-‘Alaq ayat 1–5. Ia mengingatkan bahwa manusia diciptakan dari asal yang sama, dan hanya Allah SWT yang Maha Mulia, sehingga tidak ada ruang bagi sikap merasa superior.

“Ketika kesadaran ini lepas, yang muncul adalah narasi ‘saya lebih baik dari Anda’, ‘kelompok saya lebih unggul dari kelompok Anda’. Padahal kita semua berasal dari ‘alaq’ yang sama,” tegasnya.

Prinsip inilah, menurutnya, yang menjadi basis jati diri Hidayatullah sebagai jama‘atun minal muslimin, yakni bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh elemen umat Islam. Ia menegaskan bahwa Hidayatullah memandang dirinya sebagai bagian dari NU, Muhammadiyah, DDI, Wahdah Islamiyah, dan elemen umat Islam lainnya.

“Islam ini harus dibawa bersama-sama, dengan kolaborasi dan sinergi. Jika itu dilakukan, maka akan tampak tanda-tanda awal kebangkitan Islam, khususnya di Sulawesi Selatan ini,” katanya.

Menurutnya, penguatan fungsi masjid sebagai titik temu lintas ormas dan komunitas merupakan prasyarat penting bagi kebangkitan umat Islam di Sulawesi Selatan. Dialog tersebut diharapkan menjadi langkah konkret mempererat silaturahmi dan kerja bersama antarormas dalam memakmurkan masjid sekaligus memperkuat persatuan umat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Recent Comments