MAKASSAR — Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Sulawesi Selatan bersama Pemuda Hidayatullah (PEMHIDA) Sulsel menggelar buka puasa bersama yang dirangkaikan dengan peluncuran Gerakan Solidaritas Pangan bagi mahasiswa rantau, Jumat (27/2/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) Makassar.
Sekitar 30 mahasiswa dari berbagai kampus di Makassar hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya dari UIN Alauddin Makassar, Universitas Muslim Indonesia (UMI), Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh), Universitas Terbuka (UT), dan Universitas Negeri Makassar (UNM).
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang buka puasa bersama, tetapi juga forum silaturahmi dan penguatan kolaborasi antar mahasiswa lintas kampus. Melalui momentum Ramadhan, para peserta diajak membangun kepedulian sosial, khususnya terhadap kebutuhan pangan mahasiswa rantau yang tengah menempuh pendidikan di kota Makassar.
Ketua Pemuda Hidayatullah Sulawesi Selatan, Rachmat Ghafur Hamran, menegaskan bahwa Ramadhan seharusnya menjadi momentum lahirnya gerakan kolaboratif yang berdampak nyata bagi umat.
“Kami ingin membangun koneksi yang kuat antar mahasiswa lintas kampus dan organisasi. Dari pertemuan seperti ini diharapkan lahir berbagai kolaborasi program yang memberi manfaat luas,” ujarnya.
Dalam agenda tersebut, BMH Sulsel juga memberikan edukasi tentang zakat sebagai instrumen strategis pemberdayaan umat. Tidak hanya sebagai ibadah ritual, zakat dinilai memiliki dimensi sosial yang kuat dalam membantu kelompok yang membutuhkan, termasuk mahasiswa perantau yang menghadapi tantangan ekonomi selama masa studi.
Sebagai lembaga amil zakat nasional yang telah memperoleh pengesahan dari Kementerian Agama Republik Indonesia, BMH berkomitmen mengelola zakat, infak, dan sedekah secara amanah dan profesional. Melalui jaringan nasionalnya, lembaga ini terus mengembangkan berbagai program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Reskiaman SW, menyampaikan tausiyah tentang pentingnya fondasi spiritual dalam gerakan kepemudaan. Menurutnya, kekuatan gerakan sosial tidak dapat dilepaskan dari kedalaman spiritualitas para pelakunya.
“Pemuda yang menjaga shalat lima waktu secara konsisten akan memiliki karakter yang kuat, disiplin, dan mental yang stabil. Spiritualitas inilah yang menjadi benteng dari dekadensi moral sekaligus sumber energi perubahan sosial,” ungkapnya.
Ia menambahkan, gerakan kepemudaan yang berangkat dari nilai-nilai spiritual akan melahirkan generasi yang tidak hanya aktif secara sosial, tetapi juga memiliki integritas dan kepedulian terhadap sesama.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama menjelang waktu berbuka puasa. Suasana kebersamaan yang hangat diharapkan menjadi awal dari terbangunnya jaringan kolaborasi mahasiswa Muslim yang lebih solid, sekaligus mendorong lahirnya berbagai gerakan kebaikan yang bermanfaat bagi umat.
Melalui Gerakan Solidaritas Pangan ini, BMH dan Pemuda Hidayatullah Sulsel berharap tercipta sistem kepedulian yang lebih terorganisasi, sehingga mahasiswa rantau dapat merasakan dukungan kolektif dari komunitas umat dalam menyelesaikan perjalanan akademiknya.
Abu Rifqoh



