Oleh: Abdul Aziz*
Saya terusik oleh satu ayat yang dibacakan imam pada qiyamullail dua malam lalu. Malam ke-13 Ramadhan, ketika kami menuntaskan juz ke-13 dalam satu malam. Saat sampai pada ayat ke-90 dari Surah Yusuf, bacaan imam terasa melambat, seolah memberi ruang agar kalimat itu benar-benar meresap.
“Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf : 90).
Ayat itu bukan sekadar penutup dramatik dari kisah panjang Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Setelah sumur yang gelap. Setelah dijual sebagai budak. Setelah godaan yang berat. Setelah penjara yang sunyi. Lalu pertemuan kembali dengan saudara-saudara yang pernah membuangnya. Di puncak cerita itu, Al-Qur’an tidak menonjolkan balas dendam, tidak pula menegaskan kemenangan politik. Yang ditegaskan justru dua hal yang sunyi namun kokoh, takwa dan sabar.
Di situlah saya merasa tertampar. Ramadhan yang sedang kita jalani ini, sebenarnya sedang membentuk apa dalam diri kita. Apakah sekadar melatih tubuh menahan lapar dan haus, atau sedang menata sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak terlihat tetapi menentukan arah hidup kita.
Kita sering tidak sabar pada proses. Kita ingin perubahan yang cepat. Ingin hati yang segera tenang. Ingin doa yang langsung terjawab. Kita mudah gelisah ketika hasil tidak sesuai harapan. Padahal Yusuf menunggu tanpa tahu kapan fase sulit itu berakhir. Ia tidak tahu kapan akan keluar dari penjara. Ia tidak tahu kapan kebenaran akan terungkap. Ia hanya menjaga satu hal yang bisa ia kendalikan, tetap bertakwa dan tetap bersabar.
Kisah Yusuf menyuguhkan sisi kemanusiaan yang sangat menyentuh. Ia tidak menghapus masa lalunya. Ia tidak berpura-pura lupa bahwa ia pernah disakiti. Namun ia menafsirkan ulang seluruh peristiwa hidupnya dalam kerangka keimanan. Ia tidak menyederhanakan takdir sebagai permainan manusia. Ia tidak pula mengkultuskan penderitaan sebagai identitas diri. Ia mengembalikan semuanya kepada hukum ilahi, bahwa siapa yang bertakwa dan bersabar, Allah tidak akan menyia-nyiakan.
Di sinilah puasa menemukan relevansinya. Puasa memberi ruang hening yang jarang kita miliki di luar bulan ini. Dalam rasa lapar dan sunyi, kita dipaksa berhadapan dengan diri sendiri. Luka lama yang belum selesai. Kekecewaan yang diam-diam masih kita simpan. Rasa tersinggung yang mudah muncul ketika nama kita tidak disebut atau usaha kita tidak dihargai.
Puasa ternyata bukan hanya menahan makan. Ia melatih kita menahan reaksi. Menahan emosi yang ingin meledak. Menahan kalimat yang bisa melukai. Bahkan menahan keinginan untuk membalas. Jika lapar saja bisa kita tahan dari fajar hingga maghrib, mengapa dendam tidak bisa kita tahan lebih lama.
Yusuf mengajarkan bahwa kedewasaan iman terletak pada kemampuan mengelola luka tanpa membiarkannya berubah menjadi kebencian. Ia mampu berkata kepada saudara-saudaranya, “Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian.” Kalimat itu bukan tanda lupa, tetapi tanda matang. Ia memilih memutus rantai dendam ketika ia punya kuasa untuk membalas.
Takwa sering kita pahami sebagai sikap hati-hati terhadap yang haram. Itu tentu benar. Namun dalam kisah Yusuf, takwa terasa lebih luas. Ia adalah kesadaran bahwa Allah hadir dalam setiap fase, bahkan fase yang terasa tidak adil. Sebab dalam Al-Qur’an, sabar adalah daya tahan aktif berupa kemampuan bertahan dalam ketaatan, menahan diri dari maksiat, dan tetap lurus ketika ujian datang bertubi-tubi.
Ramadhan mempertemukan takwa dan sabar dalam latihan harian. Kita belajar disiplin pada waktu khusus yang telah Allah tetapkan. Kita menunda berbuka walau makanan sudah terhidang. Kita menahan amarah walau situasi memancing emosi. Semua itu bukan tujuan akhir. Itu proses membangun karakter yang tidak mudah goyah oleh keadaan.
Menariknya, ujian dalam kisah Yusuf tidak berhenti ketika ia berada di bawah. Justru ketika ia berada di atas, di puncak kekuasaan, takwa dan sabarnya kembali diuji. Dalam kondisi kuat, godaan terbesar adalah membalas. Dalam posisi unggul, godaan paling halus adalah merendahkan. Di sinilah kualitas iman terverifikasi. Apakah kita tetap lembut ketika mampu keras? Apakah kita tetap adil ketika punya kuasa?
Dari sini, kita melihat bahwa Ramadhan sesungguhnya sedang menyiapkan kita untuk dua keadaan sekaligus. Yaitu ketika kita lemah dan ketika kita kuat. Ketika kita di bawah, sabar menjaga kita dari putus asa. Ketika kita di atas, takwa menjaga kita dari kesombongan. Keduanya adalah penyangga agar kita tidak terlempar oleh perubahan situasi.
Di penghujung bacaan malam itu, imam melantunkan ayat-ayat tentang syukur dan ancaman bagi yang kufur nikmat. Ada kesinambungan pesan yang terasa kuat. Bahwa siapa yang bertakwa dan bersabar tidak akan disia-siakan; siapa yang kufur nikmat akan kehilangan arah. Ramadhan bukan sekadar menahan diri dari yang haram, tetapi membangun karakter yang stabil dalam segala keadaan, lapang maupun sempit, dipuji maupun disakiti.
Jika Allah benar-benar tidak menyia-nyiakan pahala orang yang bertakwa dan bersabar, maka pertanyaannya bergeser. Bukan lagi apakah kita akan dibalas, melainkan apakah kita cukup sabar menunggu waktu. Bukan apakah keadilan akan datang, melainkan apakah kita siap tetap lurus sebelum keadilan itu tiba.
Malam-malam Ramadhan terus berjalan. Juz demi juz akan dilantunkan. Namun ayat ke-90 dari Surah Yusuf itu terasa seperti penanda arah, di mana takwa menjaga orientasi, dan sabar menjaga ritme. Puasa menjadi madrasah yang menghubungkan keduanya, agar kita tidak hanya lulus secara ritual, tetapi juga matang secara spiritual.
Jika setelah Ramadhan kita menjadi lebih lembut pada orang yang pernah menyakiti, lebih tenang saat diuji, dan lebih rendah hati saat diberi, mungkin di situlah tanda bahwa puasa kita tidak berhenti di lapar dan haus. Ia telah turun lebih dalam, membentuk jiwa yang matang seperti Yusuf, yang tidak membiarkan luka mengalahkan imannya.



