Saturday, July 5, 2025
Google search engineGoogle search engine
HomeArtikelIbrah dari Para Pendiri Hidayatullah (67)

Ibrah dari Para Pendiri Hidayatullah (67)

HidayatullahSulsel.com — Allah Ta’ala berfirman dan Quran

وَمَا كَانَ لِنَبِیٍّ أَن یَغُلَّۚ وَمَن یَغۡلُلۡ یَأۡتِ بِمَا غَلَّ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسࣲ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا یُظۡلَمُونَ

Dan tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan ghanimah). Barang siapa berkhianat, niscaya pada hari Kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu. Kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi. Surat Ali ‘Imran: 161

Dari firman Allah di atas, kita dapat memahami, bahwa selain nabi, semua berpeluang untuk melakukan pengkhianatan, dan Allah pasti akan memberi balasan yang sempurna, terhadap setiap bentuk pengkhianatan yang dilakukan oleh siapapun juga.

Lebih jauh, sebuah peristiwa dikisahkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia bercerita: “Kami pergi bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menuju Khaibar. Lalu Allah memberikan kemenangan untuk kami. Kami tidak mendapatkan harta rampasan perang berupa emas maupun perak saat itu, akan tetapi berupa peralatan makanan dan pakaian.”

Pada waktu kami tiba di persinggahan di sebuah lembah, seorang laki-laki berdiri hendak melepaskan pelana Nabi. Namun sebilah anak panah lewat mengenainya dan membunuhnya.

Spontan kami berseru: “Selamat baginya, dia telah mati syahid wahai Rasulullah.” Namun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

كَلاَّ. وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! إِنَّ الشَّمْلَةَ لَتَلْتَهِبُ عَلَيْهِ نَارا. أَخَذَهَا مِنَ الْغَنَائِمِ يَوْمَ خَيْبَرَ. لَمْ تُصِبْهَا الْمَقَاسِمُ

‘Tidak demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, dia tidak seperti yang kalian kira. Sesungguhnya jubah yang digelapkannya pada Perang Khaibar pada waktu harta belum dibagikan akan membakar dirinya di neraka pada hari kiamat nanti.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah di atas, sungguh memberi pelajaran yang sangat berharga, bahwa seseorang yang nyata-nyata terlihat dengan kasat mata, jika dia mati terbunuh di medan perang, nasibnya justru sangat menggenaskan di akhirat nanti, jika ada ghanimah yang diambilnya, tidak sesuai aturan yang berlaku.

Seorang hamba dengan tingkat kesalehan yang di atas standar rata-rata, selama dia bukan malaikat, tetap saja berpeluang melakukan kesalahan, sebab ada hawa nafsu yang melekat pada dirinya, dan yang namanya hawa nafsu, sebagaimana firman Allah pada surat 12 ayat 53, selalu mendorong pada kejahatan.

Nafsu yang lepas kendali, niscaya tidak akan mengenal kata puas, dia akan terus menerus melakukan teror, terhadap orang-orang yang sudah menjadi budaknya, dan nafsu akan semakin menjadi-jadi, tatkala di waktu yang bersamaan, setan memiliki ruang yang leluasa, untuk melancarkan serangan lewat berbagai jurusnya.

Khusus dalam konteks harta, terlebih yang berkaitan dengan hak orang lain, apa lagi jika nyata-nyata memang milik bersama, maka salah satu kata kunci utamanya, guna meredam hawa nafsu dan mempersempit ruang gerak setan, adalah dengan tertib administrasi, di mana transparansi dan akuntabilitas, benar-benar terpenuhi sesuai standar.

Belajar dari spirit para pendiri, khususnya Ust Abdullah Said, yang memang sangat perhatian dan begitu teliti dalam hal administrasi, sehingga jangankan soal angka, bahkan satu huruf saja yang bermasalah dalam pengetikan, sekalipun setiap orang yang membacanya pasti paham akan maksudnya, tetap saja surat itu tak akan ditandatangani.

Untuk itulah, seiring dengan perkembangan lembaga, di mana aset terus bertambah dan kian menggoda, di periode kepemimpinan Ust. Abdurahman Muhammad, yang dibantu oleh 5 institusi tingkat pusat, melalui forum Musyawarah Majelis Syura (MMS), lahirlah berbagai keputusan, yang dibuat dalam bentuk Peraturan Organisasi (PO).

Ada keyakinan yang sangat kuat, jika PO benar-benar dibaca, dipahami dan dijalankan sebagaimana seharusnya, terbayang masa depan yang sangat menjanjikan, dalam pengertian, apa yang dicita-citakan, berupa terbangunnya sebuah peradaban yang ideal, benar-benar akan terwujud.(*)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_imgspot_img

Most Popular

Recent Comments