Oleh: Ahkam Sumadiana*
Hari ini saya mendapat kabar duka tentang kepergian Ustadz Muallimin Amin. Kabar itu membawa saya kembali pada sebuah masa yang telah berlalu berpuluh-puluh tahun. Saya teringat seorang anak muda yang ketika itu masih duduk sebagai siswa SMA Negeri Malili, Luwu Timur. Ia adalah salah satu peserta Bastra atau Daurah Islamiyah yang kami laksanakan pada tahun 1987 sampai 1988.
Saya mengenal Muallimin pertama-tama sebagai seorang siswa. Ketika itu, saya belum mengenalnya sebagai seorang ustadz, apalagi sebagai seorang da’i yang kelak akan menghabiskan sebagian hidupnya di berbagai pelosok negeri. Namun, sejak awal, ada sesuatu yang saya ingat dari dirinya. Ia termasuk siswa yang bersemangat dan cukup menonjol dalam mengikuti kegiatan pembinaan Islam yang kami laksanakan.
Kegiatan Bastra tersebut diprakarsai dan dikawal langsung oleh Ibu Manseng, guru agama di SMA Negeri Malili, bersama Bapak Abd. Karim dan Bapak Labesse. Para instruktur dan pemateri yang terlibat di antaranya Ustadz Aziz Qahhar, Ustadz Khairil, Ustadz Abd. Majid, dan saya sendiri. Ada pula beberapa orang lainnya yang turut mengambil bagian, tetapi setelah waktu berjalan sedemikian panjang, saya tidak lagi mampu mengingat seluruh nama mereka.
Peserta kegiatan ini adalah seluruh siswa dan siswi Muslim, mulai dari kelas I sampai kelas III SMA Negeri Malili. Pada masa itu, kami berusaha memberikan pembinaan keislaman kepada para siswa dengan memperkenalkan pemahaman Islam yang lebih utuh. Kami ingin mengajak mereka mengenal Islam bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai jalan hidup yang harus dipelajari, diyakini, dan diamalkan secara kaffah.
Pada waktu itu, kami para instruktur masih memiliki latar belakang yang cukup kental dengan tradisi HMI. Bersama dua orang akhwat yang secara khusus menangani pembinaan para siswi Muslimah, kami berusaha menyampaikan materi sesuai dengan pemahaman yang kami miliki. Salah satu contoh kehidupan Islam yang kami perkenalkan kepada para peserta adalah Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak di Balikpapan.
Siapa yang menyangka, bertahun-tahun kemudian, tempat yang dahulu kami ceritakan kepada para siswa itu justru menjadi bagian penting dari perjalanan hidup Muallimin.
Atas izin dan kehendak Allah SWT, setelah kegiatan training tersebut, terjadi perubahan yang cukup besar di SMA Negeri Malili. Hampir seluruh siswi Muslimah mulai mengenakan jilbab. Bagi kita sekarang, pemandangan seperti itu mungkin sudah biasa. Namun, pada masa itu, keadaannya sangat berbeda.
Kami masih berada di zaman Orde Baru. Mengenakan jilbab di lingkungan sekolah belum menjadi sesuatu yang lazim. Bahkan, seorang Muslimah yang mengenakan jilbab pada waktu itu masih sering dipandang asing. Mereka yang berusaha menjalankan ajaran Islam secara lebih kaffah pun tidak jarang mendapatkan kecurigaan dan stigma sebagai kelompok yang ekstrem atau radikal.
Persoalan jilbab kemudian berkembang menjadi pro dan kontra di lingkungan sekolah. Ketegangan itu akhirnya memunculkan aksi demonstrasi para siswa. Sejumlah siswa diamankan dan ditahan di kantor polisi Malili. Salah seorang di antara mereka adalah Muallimin Amin.
Saya tidak tahu persis apa yang ada dalam pikiran Muallimin ketika itu. Tetapi satu hal yang saya ingat, pengalaman tersebut tidak membuat semangatnya untuk belajar dan menjalankan Islam menjadi surut. Justru setelah keluar dari tahanan, semangatnya untuk mendalami Islam dan berusaha menjalani kehidupan secara kaffah semakin kuat.
Pada akhirnya, Muallimin mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia memilih untuk berhijrah ke Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.
Saya tidak lagi ingat siapa saja yang ikut serta dalam perjalanan hijrah ke Hidayatullah Balikpapan pada waktu itu. Namun, saya mengetahui bahwa Muallimin kemudian menjalani proses pembinaan dan kaderisasi di KMM Gunung Tembak. Dari sanalah perjalanan panjangnya sebagai seorang kader dan pejuang dakwah semakin menemukan bentuknya.
Muallimin memang memiliki karakter seorang da’i dan mujahid. Ia tidak hanya berbicara tentang dakwah, tetapi menjalani kehidupan dakwah itu sendiri. Setelah menyelesaikan proses pembinaannya di Gunung Tembak, ia kemudian ditugaskan ke berbagai daerah dan wilayah di Papua, yang pada masa itu masih dikenal sebagai Irian Jaya.
Di sana ia mengabdikan hidupnya untuk dakwah. Jauh dari kampung halaman, jauh dari keluarga, dan berada di medan pengabdian yang tentu tidak selalu mudah. Tetapi ia tetap menjalaninya. Ia telah memilih jalan hidupnya dan berusaha menunaikannya dengan sebaik-baiknya.
Kini, setelah mendengar kabar kepergiannya, ingatan saya kembali kepada Muallimin yang dahulu saya kenal sebagai seorang siswa SMA Negeri Malili. Saya mengenangnya sebagai seorang anak muda yang memiliki semangat, yang berani mengambil keputusan untuk kehidupannya, dan yang kemudian benar-benar menempuh jalan yang pernah ia pilih.
Saya merasa bersyukur pernah mengenal dan membina dirinya, meskipun tentu saja pembinaan itu hanyalah salah satu bagian kecil dari perjalanan panjang hidupnya. Setelah itu, banyak orang dan banyak guru yang ikut membentuk dirinya. Yang jelas, Muallimin telah tumbuh menjadi seorang ustadz dan da’i yang mengabdikan hidupnya untuk umat.
Hari ini, murid yang dahulu pernah duduk dalam ruang pembinaan itu telah mendahului kami semua.
Ustsdz Muallimin, selamat jalan.
Sebagai seorang guru yang pernah mengenalmu sejak engkau masih menjadi siswa, saya hanya bisa mengenang perjalananmu dengan rasa haru dan bangga. Engkau telah menempuh perjalanan yang panjang, dari seorang siswa di SMA Negeri Malili, kemudian memilih jalan hijrah ke Gunung Tembak, menjalani pembinaan, lalu mengabdikan diri di berbagai medan dakwah hingga ke tanah Papua.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal saleh dan pengabdianmu. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan dan kekhilafanmu, melapangkan kuburmu, memberikan cahaya dan ketenangan di alam barzakh, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Kami yang masih diberi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ini tentu akan selalu mengenangmu dalam doa.
Selamat jalan, Ustsdz Muallimin. Selamat jalan, muridku. Selamat jalan, sahabat seperjalanan dalam dakwah.
Semoga Allah SWT menerima pengabdianmu dan menempatkanmu di antara hamba-hamba-Nya yang saleh. Semoga Allah menganugerahkan kepadamu husnul khatimah dan, dengan rahmat serta kasih sayang-Nya, memasukkanmu ke dalam golongan para syuhada yang diridhai-Nya.
Selamat jalan, Mujahid. Semoga kita dipertemukan kembali di tempat yang lebih baik, di sisi Allah SWT.
*Penulis adalah Ustadz Ahkam Sumadiyana, M.A., aktifis HMI era 90an.



