Sabtu, Maret 21, 2026
BerandaArtikelPerbedaan Idulfitri dan Kedewasaan Umat Menjaga Ukhuwah di Tengah Ragam Ijtihad

Perbedaan Idulfitri dan Kedewasaan Umat Menjaga Ukhuwah di Tengah Ragam Ijtihad

Oleh : Muhammad Saleh Usman*

Fenomena perbedaan penetapan 1 Syawal kembali hadir di tengah umat Islam. Sebagian saudara kita telah merayakan Idulfitri lebih dahulu, sementara sebagian lainnya menyambutnya pada hari berikutnya. Perbedaan seperti ini bukan hal baru dalam perjalanan umat. Namun setiap kali ia datang, selalu ada satu pertanyaan penting yang ikut mengemuka. Apakah kita mampu menyikapinya dengan kedewasaan, keluasan hati, dan kejernihan berpikir.

Dalam kehidupan sosial, perbedaan hari raya bukan semata soal tanggal di kalender. Ia bisa menjadi ujian bagi kualitas ukhuwah, kematangan literasi keagamaan, dan kekuatan persaudaraan kebangsaan kita. Di satu sisi, perbedaan ini lahir dari wilayah ijtihad yang memiliki landasan ilmiah dan argumentasi masing-masing. Di sisi lain, jika tidak dikelola dengan narasi yang sehat, ia dapat memantik perdebatan yang melelahkan, bahkan melukai sesama Muslim hanya karena perbedaan cara membaca tanda-tanda waktu.

Di sinilah pentingnya menghadirkan pandangan yang lebih jernih. Perbedaan penetapan Idulfitri bukanlah perbedaan akidah, bukan pula pertentangan antara iman dan kesesatan. Ia berada pada ranah ijtihad dalam memahami fenomena astronomis dan metode penetapan awal bulan hijriah. Ada yang berpegang pada rukyat, ada yang menekankan hisab, dan masing-masing memiliki basis keilmuan, otoritas, serta tradisi kelembagaan yang tidak lahir dari ruang kosong. Maka yang semestinya dibangun bukanlah narasi saling menegasikan, melainkan budaya saling memahami.

Islam sendiri telah meletakkan fondasi etis yang sangat kokoh dalam menyikapi keragaman. Al-Qur’an mengajarkan prinsip lita’arafu, agar manusia saling mengenal, bukan saling meniadakan. Pesan ini relevan bukan hanya dalam konteks hubungan antarbangsa dan antarsuku, tetapi juga dalam kehidupan internal umat ketika berhadapan dengan perbedaan pandangan. Keragaman tidak selalu identik dengan ancaman. Dalam banyak keadaan, ia justru menjadi ruang pembelajaran untuk menumbuhkan kebijaksanaan, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap proses pencarian kebenaran.

Sejarah Islam pun menunjukkan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama dan para sahabat bukanlah sesuatu yang asing. Dalam banyak persoalan furu’iyah, perbedaan justru menjadi bukti bahwa Islam memiliki keluasan metodologis dan kelenturan dalam merespons realitas. Selama koridor adab tetap terjaga dan tujuan syariat tetap dihormati, perbedaan tidak harus berujung pada permusuhan. Yang berbahaya bukan keberagaman pandangan itu sendiri, melainkan ketika ego merasa paling benar mengambil alih ruang yang seharusnya diisi oleh ilmu dan akhlak.

Ketika Perbedaan Diperuncing oleh Cara Berkomunikasi

Dalam perspektif komunikasi sosial, konflik tidak selalu lahir dari besarnya perbedaan. Sering kali konflik justru membesar karena cara perbedaan itu dikomunikasikan. Kalimat yang meremehkan, sindiran yang merendahkan, atau unggahan yang menonjolkan superioritas kelompok sendiri bisa menjadi pemicu retaknya kepercayaan sosial. Di era digital, keadaan ini menjadi semakin kompleks. Media sosial memberi ruang sangat luas bagi setiap orang untuk berbicara, tetapi tidak selalu diiringi dengan kedewasaan untuk menimbang dampak ucapannya.

Akibatnya, ruang digital kita kerap dipenuhi narasi yang bising. Perbedaan penetapan Idulfitri yang seharusnya dipahami sebagai bagian dari khazanah ijtihad berubah menjadi ajang saling menghakimi. Muncul dikotomi semu antara yang dianggap paling sunnah dan yang dianggap kurang tepat, antara yang merasa paling ilmiah dan yang dituduh sekadar ikut-ikutan. Padahal, dalam urusan seperti ini, tidak semua orang harus seragam agar tetap berada dalam bingkai persaudaraan.

Karena itu, etika komunikasi Qur’ani menjadi sangat penting untuk dihadirkan. Umat ini tidak hanya dituntut berkata benar, tetapi juga dituntut menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik. Prinsip qaulan sadida mengajarkan kejujuran dan ketepatan ucapan. Sementara qaulan layyina mengajarkan kelembutan, empati, dan kebijaksanaan dalam menyampaikan pandangan. Dua prinsip ini seharusnya berjalan beriringan. Sebab benar saja tidak cukup bila disampaikan dengan kasar. Begitu pula lembut saja tidak cukup bila kehilangan pijakan kebenaran.

Maka menghormati saudara kita yang berlebaran lebih dahulu, tanpa merendahkan yang berlebaran kemudian, adalah bagian dari akhlak Islam yang sangat mendasar. Demikian pula sebaliknya. Mengucapkan selamat, mendoakan kebaikan, menjaga perasaan orang lain, serta menghindari debat yang tidak perlu adalah bentuk nyata kedewasaan beragama. Ukhuwah tidak diuji pada saat semua orang sama. Ukhuwah justru diuji ketika ada perbedaan, lalu kita tetap memilih menghormati.

Lebih jauh lagi, dalam konteks Indonesia, cara kita mengelola perbedaan ini memiliki dampak sosial yang luas. Bangsa ini dibangun di atas fondasi keberagaman. Kita terbiasa hidup dengan ragam suku, budaya, bahasa, organisasi, dan corak keberagamaan. Karena itu, kekuatan Indonesia tidak terletak pada penyeragaman mutlak, melainkan pada kemampuan merawat harmoni di tengah perbedaan yang nyata. Jika urusan ijtihad seperti penetapan Idulfitri saja tidak bisa disikapi dengan tenang, maka kita sedang menghadapi persoalan yang lebih besar, yakni rapuhnya kedewasaan sosial kita sendiri.

Menjaga Ukhuwah dan Merawat Indonesia

Dalam kehidupan berbangsa, ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya saling menguatkan. Persaudaraan sesama Muslim menumbuhkan rasa kasih, saling doa, dan tanggung jawab moral. Sementara persaudaraan sebangsa menjaga agar semua energi sosial itu bermuara pada terciptanya ketenteraman bersama. Dari sini kita belajar bahwa menjaga integrasi nasional tidak selalu dimulai dari hal-hal besar. Kadang ia justru dimulai dari kemampuan menahan komentar sinis, menghindari provokasi, dan memilih bahasa yang meneduhkan.

Perbedaan hari raya seharusnya dibaca sebagai bagian dari kekayaan pemikiran Islam di Indonesia. Kita memiliki tradisi keilmuan yang hidup, lembaga-lembaga keagamaan yang bekerja, serta ulama yang berijtihad dengan kesungguhan. Tidak semua hasil ijtihad akan selalu sama, dan itu tidak otomatis menjadi kelemahan. Dalam banyak hal, justru di sanalah tampak bahwa Islam memiliki dinamika intelektual yang sehat. Yang perlu dijaga adalah agar dinamika itu tidak berubah menjadi polarisasi.

Peran tokoh agama, pendidik, muballigh, dan para pemimpin masyarakat menjadi sangat strategis di sini. Mereka bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pembentuk suasana batin umat. Ketika masyarakat bingung, mereka harus menjadi penjernih. Ketika perbedaan mulai memanas, mereka harus menjadi peneduh. Ketika sebagian orang tergoda menjadikan isu ini sebagai alat pembelahan, mereka harus tampil sebagai penjaga akal sehat dan penjaga adab publik. Takbir yang berkumandang pada hari yang berbeda tidak mengubah arah pengagungan kita. Semuanya tetap bermuara kepada Allah SWT. Semuanya tetap lahir dari kerinduan yang sama untuk taat dan mendekat kepada-Nya.

Karena itu, Idulfitri semestinya tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ia juga harus dibaca sebagai ukuran keberhasilan kita dalam membersihkan hati. Apa arti kembali kepada fitrah bila lisan masih gemar merendahkan sesama Muslim. Apa makna kemenangan rohani bila perbedaan teknis justru membuat kita gagal menjaga kasih sayang. Sungguh, kualitas keberagamaan seseorang tidak hanya tampak pada semangat ibadahnya, tetapi juga pada kemampuannya memuliakan orang lain di tengah perbedaan.

Pada akhirnya, yang paling dibutuhkan umat bukan sekadar keseragaman tanggal, melainkan kesatuan hati. Kita boleh berbeda dalam memulai hari raya, tetapi jangan berbeda dalam menjaga persaudaraan. Kita boleh tidak sama dalam metode, tetapi jangan kehilangan adab dalam menyikapi hasilnya. Sebab Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana menentukan awal Syawal, tetapi juga mengajarkan bagaimana tetap menjadi saudara meskipun tidak selalu sampai pada kesimpulan yang sama.

Inilah momentum untuk mempraktikkan ukhuwah yang lebih utuh. Ukhuwah yang tidak rapuh hanya karena beda penetapan. Ukhuwah yang tidak mudah retak oleh perdebatan teknis. Ukhuwah yang berdiri di atas ilmu, akhlak, dan keinsafan bahwa setiap perbedaan tidak harus berujung pada pertentangan. Dalam suasana Idulfitri yang suci, kita diajak untuk belajar satu hal yang sangat mendasar. Bahwa kedewasaan umat bukan diukur dari seberapa keras ia mempertahankan pendapatnya, melainkan dari seberapa bijak ia menjaga cinta di tengah perbedaan.

Sebab pada akhirnya, kesalehan yang sejati tidak hanya terlihat dari kapan seseorang mulai bertakbir di lapangan. Kesalehan juga tampak dari sejauh mana ia mampu menjaga hati, lisan, dan sikap agar tetap memuliakan saudaranya, sembari terus merawat Indonesia sebagai rumah bersama yang diberkahi.

*Penulis, Dr. Muhammad Saleh Usman, M.I.Kom, adalah ketua DPW Hidayatullah Sulsel

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Recent Comments