Toraja Utara (HidayatullahSulsel.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustaz Dr. Muh. Sholeh Utsman, S.S., M.I.Kom., bersama jajaran pengurus wilayah mengantar dan mendampingi petugas baru Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Toraja Utara periode 2026–2030, Selasa (6/1/2026).
Kegiatan ini dilakukan sebagai langkah konsolidasi pasca-Musyarawah Daerah (Musda) Hidayatullah Sulawesi Selatan yang digelar akhir bulan lalu.
Pendampingan tersebut merupakan bagian dari strategi DPW Hidayatullah Sulsel untuk menjaga kesinambungan dan stabilitas jaringan dakwah di wilayah Toraja Utara.
Dalam agenda tersebut, Ketua DPW secara langsung menginstruksikan agar proses transisi kepemimpinan dan penugasan dai dilakukan secara terencana, tertib, dan tetap menjaga hubungan harmonis dengan seluruh elemen masyarakat setempat.
“Sebelum petugas lama bergeser ke tempat tugas yang baru, mereka wajib mendampingi petugas baru untuk bersilaturahmi kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, serta unsur pemerintah daerah. Ini penting untuk menjaga stabilitas dakwah dan keberlanjutan program,” ujar Ustaz Sholeh Utsman di sela-sela kegiatan.
Sebagai bentuk penguatan pendampingan lapangan, DPW Hidayatullah Sulsel juga melibatkan perintis awal Hidayatullah Toraja Raya, Ustaz Burhan, untuk membersamai petugas baru dalam melakukan silaturahmi ke berbagai elemen strategis.
Langkah ini dimaksudkan agar program-program mainstream gerakan Hidayatullah dapat terus berjalan selaras dengan karakter sosial dan kultural masyarakat Toraja Utara.
Menurut Ustaz Sholeh, pendekatan personal dan kelembagaan menjadi kunci utama keberhasilan dakwah di daerah-daerah dengan keragaman sosial dan budaya yang kuat.
Ia menegaskan bahwa kehadiran dai Hidayatullah harus membawa pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin serta mampu membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Dakwah tidak boleh terputus hanya karena pergantian personel. Yang harus dijaga adalah kesinambungan gerakan, kepercayaan masyarakat, dan sinergi dengan pemerintah setempat,” tegasnya.
Kegiatan pendampingan ini menjadi bagian dari agenda awal DPW Hidayatullah Sulsel dalam periode kepengurusan hasil Musda, sekaligus menegaskan komitmen organisasi untuk menjaga soliditas struktur, efektivitas dakwah, dan keberlanjutan peran Hidayatullah di tengah masyarakat Sulawesi Selatan.
Motor Dai sebagai Penguat Mobilitas Dakwah Pedalaman
Rangkaian pengantaran petugas baru Hidayatullah Toraja Utara tersebut juga ditandai dengan prosesi serah terima motor dai, sebagai sarana penunjang aktivitas dakwah di lapangan.
Motor dai diserahkan langsung oleh petugas lama periode 2022–2025, Ustaz Ikhsan Saleh, kepada petugas baru, Ustaz Muchlis, yang akan mengemban amanah dakwah di Toraja Utara hingga 2030.
Dukungan Laznas BMH untuk Dai Pedalaman dan Minoritas
Sarana transportasi tersebut merupakan bantuan strategis dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) Sulsel sebagai bentuk dukungan konkret terhadap program dakwah di wilayah pedalaman dan komunitas muslim minoritas.
Bantuan ini bertujuan memperkuat mobilitas dai dalam menjangkau desa-desa binaan yang memiliki keterbatasan akses transportasi serta medan geografis yang menantang.
Selama ini, Laznas BMH dikenal intens memberikan perhatian terhadap keberlangsungan dakwah para dai pedalaman dan minoritas, tidak hanya melalui penyediaan sarana transportasi, tetapi juga dukungan kebutuhan dasar.
Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah program bantuan beras bulanan bagi dai, yang dirancang untuk menjaga ketahanan ekonomi para dai agar dapat lebih fokus menjalankan tugas pembinaan umat, pendidikan keislaman, serta penguatan nilai-nilai akidah di wilayah tugas masing-masing.
DPW Hidayatullah Sulsel menilai sinergi antara struktur organisasi dan Laznas BMH menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan dakwah.
Dukungan logistik yang berkelanjutan dinilai mampu meningkatkan efektivitas kerja dai sekaligus memperkuat kehadiran Hidayatullah sebagai gerakan dakwah yang responsif terhadap kebutuhan umat, khususnya di daerah-daerah dengan keterbatasan sarana dan infrastruktur.



