وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Al-‘Ankabūt: 69)
Tidak semua ujian dalam perjuangan datang dalam rupa kekurangan harta atau sempitnya rezeki. Sebagian justru hadir dalam bentuk yang lebih sunyi namun mengguncang. Seperti berupa kehilangan, ketakutan, atau bahkan keputusan yang harus diambil dalam hitungan detik.
Pada saat-saat seperti itulah iman tidak lagi diuji lewat kata-kata, melainkan melalui tindakan nyata. Di sanalah keteguhan menemukan maknanya yang paling jujur.
Ayat di awal tulisan ini menjadi pengingat bahwa jalan perjuangan bukan sekadar lintasan ideal yang bersih dari rintangan. Ia adalah jalan yang menuntut kesungguhan jihad (dalam makna yang luas), yakni kesediaan untuk bertahan, melangkah, dan tetap berbuat baik meski dalam keadaan yang paling berat.
Janji Allah dalam ayat ini sederhana namun tegas dan itu pasti. Bahwa, siapa yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya, akan ditunjukkan jalan-jalan pertolongan.
Kisah Ustadz Supri menghadirkan janji itu dalam wujud yang nyata.
Sejak 1993, ia memilih hidup di lintasan pengabdian bersama Hidayatullah. Dari Tomohon, kembali ke Luwuk Banggai, hingga akhirnya menetap dan merintis pesantren di Toili.
Saat itu, Toili bukanlah wilayah yang ramah. Lahan masih berupa semak belukar, pondok baru berdiri seadanya, dan kehidupan berjalan dengan segala keterbatasan. Tidak ada jaminan kenyamanan, apalagi kemudahan.
Namun ia bertahan. Bukan karena hidup terasa ringan, melainkan karena amanah telah berakar dalam jiwanya. Pengabdian, baginya, bukan episode sementara, tetapi pilihan hidup.
Bahkan, yang terbaru, ketika hendak berangkat menghadiri Musyawarah Daerah Gabungan (Musdagab) VI Hidayatullah se-Sulawesi Tengah, ujian kembali datang berlapis. Dompet hilang, istri jatuh sakit, anak-anak harus diantar kembali ke pondok. Secara manusiawi, semua itu cukup menjadi alasan untuk menunda atau bahkan membatalkan kehadiran. Namun ia tetap melangkah.
“Alhamdulillah, saya bisa hadir sebagai bentuk ketaatan kepada (kepemimpinan dan) lembaga,” ucapnya singkat saat menyampaikan tausiyah.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi kesederhanaan itulah yang justru memperlihatkan kedalaman iman yang telah ditempa oleh waktu. Tidak ada dramatisasi, tidak ada keluhan. Hanya ketaatan yang terekam dengan tenang.
Namun ujian terbesar dalam hidupnya datang jauh sebelum itu, tepatnya pada 17 Desember 2007.
Di tepi sungai, ketika istrinya diterkam buaya saat mencuci pakaian, Supri tidak sempat berpikir panjang. Tidak ada ruang untuk menimbang risiko atau keselamatan diri. Satu kesadaran menguasai dirinya hanyalah perasaan bahwa ini adalah tanggung jawab saya sebagai suami.
Dan akhinya Ia melompat ke sungai. Melawan buaya, melawan rasa takut, dan melawan kemungkinan kehilangan yang tak terbayangkan.
Upaya pertama gagal. Tangan kirinya patah dan mengalami cacat permanen. Rasa sakit itu nyata, tetapi tidak menghentikannya. Dengan sisa tenaga dan tekad yang tersisa, tangan kanannya kembali dimasukkan ke tenggorokan buaya hingga hewan itu tercekak dan akhirnya melepaskan gigitannya. Istrinya selamat, meski dengan luka parah. Supri sendiri menanggung luka seumur hidup.
Tiga puluh menit kemudian, pertolongan manusia baru datang. Tetapi sebelum itu, pertolongan Allah telah lebih dahulu bekerja, menguatkan jiwa yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya.
Di titik inilah ayat Al-‘Ankabūt terasa hidup, bukan sebagai teks, melainkan sebagai kenyataan. Bahwa “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Kesungguhan tidak selalu berbuah kenyamanan. Kadang ia berbuah luka. Namun dari luka itulah Allah menumbuhkan keteguhan, meninggikan derajat, dan mengabadikan makna pengabdian. Jalan yang ditunjukkan Allah tidak selalu berarti terhindar dari penderitaan, tetapi selalu berarti ditemani dan dikuatkan.
Hampir tiga puluh tahun Supri bertugas di Toili. Suka dan duka telah dilalui. Luka fisik masih tersisa, menjadi saksi bisu dari satu fase kehidupan. Tetapi langkahnya tidak berhenti. Keteguhan yang lahir dari iman membuatnya terus berjalan, tanpa banyak bicara, tanpa tuntutan balasan.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa perjuangan selalu mengandung ujian. Bahwa iman sejati tidak berhenti pada keyakinan di dalam hati, tetapi diuji di medan nyata. Bahwa amanah kadang harus dibayar mahal. Dengan rasa takut, dengan air mata, bahkan dengan luka yang menetap seumur hidup.
Dan di atas semua itu, kita diingatkan bahwa Allah selalu bersama orang-orang yang tetap berbuat baik, meski berada dalam keadaan paling berat. Di sanalah keteguhan menemukan puncaknya, dan janji Allah menemukan pembuktiannya.