Oleh : Ahmad Sabil*
Pada titik tertentu dalam hidup, manusia akan menyadari bahwa kepemimpinan sejati tidak selalu ditandai oleh pangkat, jabatan, atau sorotan publik. Justru, ia sering lahir dari ruang-ruang sunyi yang hanya diketahui oleh hati dan Allah Ta’ala. Di sanalah watak kepemimpinan diuji, dibentuk, dan dimatangkan.
Kata “jenderal” kerap memanggil imaji tentang kekuasaan dan otoritas. Kita kadang menggambarkannya dengan seseorang yang berdiri di puncak struktur, memberi komando, dan menentukan arah.
Namun dalam perspektif yang lebih mendalam, setiap manusia sejatinya telah memikul jabatan yang jauh lebih agung dan fundamental. Tanpa seremoni, tanpa tanda pangkat di pundak, Allah menetapkan manusia sebagai khalifah di bumi. Pemegang amanah peradaban.
Amanah ini bukan sekadar mandat untuk memimpin orang lain, melainkan tanggung jawab untuk memakmurkan bumi, menjaga keseimbangannya, dan menegakkan keadilan dalam seluruh dimensi kehidupan. Ia bersifat sunyi, personal, dan sering kali luput dari penilaian manusia.
Namun justru di situlah bobot beratnya. Karena amanah ini kelak dipertanggungjawabkan langsung kepada Pemilik langit dan bumi.
Masalahnya, amanah sebesar ini tidak mungkin ditunaikan hanya dengan kekuatan diri. Manusia adalah makhluk rapuh. Hatinya mudah goyah, pikirannya bisa bias, dan langkahnya kerap tergelincir oleh godaan kekuasaan, kepentingan, atau kelelahan batin. Karena itu, seorang khalifah membutuhkan sumber daya yang melampaui dirinya sendiri. Ia perlu terus menyambungkan orientasi hidupnya ke langit, agar tidak kehilangan arah ketika berpijak di bumi.
Di antara jalan yang Allah bukakan untuk menjaga kejernihan jiwa itu adalah qiyamullail, shalat malam. Sebuah ibadah yang tidak riuh, tidak demonstratif, dan tidak menuntut pengakuan.
Ketika dunia terlelap dan aktivitas berhenti, seorang hamba bangkit dari tidurnya, membawa letihnya, kegelisahannya, dan harapannya ke hadapan Allah. Al-Qur’an menggambarkan mereka dengan bahasa yang lembut sekaligus dalam.
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya; mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap.” (QS. As-Sajdah: 16)
Pada saat-saat seperti itulah jiwa ditempa. Ambisi diluruskan, niat diperbarui, dan kesombongan diluruhkan. Qiyamullail bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan ruang pembentukan karakter kepemimpinan. Ia melatih kejujuran batin, keteguhan prinsip, dan kesadaran akan keterbatasan diri.
Tidak mengherankan jika Rasulullah ﷺ menempatkan qiyamullail sebagai amalan strategis dalam pembinaan manusia unggul. Beliau bersabda:
“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamullail, karena ia adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, penghapus dosa, dan pencegah dari perbuatan dosa.” (HR. Tirmidzi)
Bagi mereka yang telah menjadikannya kebiasaan, qiyamullail bukan lagi sekadar ritual, melainkan kebutuhan ruhani. Ada kegelisahan yang muncul ketika malam berlalu tanpa sujud. Ada kehampaan yang terasa ketika hubungan dengan langit terputus.
Tidak jarang, kerinduan itu mendorong seseorang untuk mencari amalan pengganti, seperti shalat dhuha, sebagai ikhtiar menjaga kesinambungan hubungan spiritual di tengah kesibukan siang hari.
Di sinilah makna “Jenderal Langit” menemukan relevansinya. Ia bukan pemimpin yang angkuh dengan kuasanya, melainkan pribadi yang kuat karena ketundukannya. Ia menata barisan hidupnya dari langit, agar langkahnya di bumi tetap lurus. Ia memimpin bukan dengan suara keras, tetapi dengan keteladanan batin. Ia membumi dalam kerja dan tanggung jawab, namun hatinya senantiasa terikat ke langit.
Pada akhirnya, setiap kita adalah pemimpin, minimal atas diri sendiri dan amanah yang diemban. Pertanyaannya bukan seberapa tinggi posisi kita di mata manusia, melainkan seberapa kuat koneksi kita dengan Allah.
Semoga setiap amanah yang kita jalani sebagai khalifah di bumi senantiasa berada dalam bimbingan-Nya, sehingga lahir pribadi-pribadi yang kuat secara spiritual, jernih secara moral, dan adil dalam menjalankan peran kehidupan.
*Ahmad Sabil, S.H.I., sekertaris DPD Hidayatullah Makassar



