PALOPO — Musyawarah Daerah (Musda) Gabungan Hidayatullah Zona Luwu Raya yang diikuti lima Dewan Pengurus Daerah (DPD), yakni Luwu Timur, Luwu Utara, Luwu, Kota Palopo, dan Toraja Utara, resmi ditutup oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Selatan, Dr. Muhammad Saleh, Selasa sore (24/12/2025).
Dalam sambutan penutupnya, Ketua DPW menegaskan bahwa amanah kepengurusan yang baru dilantik bukanlah ruang untuk menilai, apalagi mengkritik kerja para pengurus sebelumnya, melainkan tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan dengan etika, kesadaran sejarah, dan kedewasaan sikap.
“Pengurus hari ini mendapat tugas, bukan untuk mengevaluasi atau mengomentari masa lalu. Sesungguhnya fase perjuangan sebelumnya jauh lebih berat dibandingkan apa yang kita hadapi hari ini dan ke depan,” tegasnya di hadapan peserta Musda.
Ia mengingatkan bahwa kenyamanan yang dirasakan kader hari ini, baik dari sisi fasilitas, jaringan, maupun kelembagaan, adalah hasil dari pengorbanan para pendahulu yang berjuang di masa serba terbatas. Karena itu, sikap meremehkan atau kehilangan adab terhadap senior dinilai sebagai kemunduran etika perjuangan.
Ia mengingatkan agar para pengurus baru menjaga adab dan etika kepada senior serta para perintis perjuangan. Mengutip pelajaran dari kisah sese, ia menekankan pentingnya menahan diri dari sikap meremehkan atau mengomentari kualitas perjuangan generasi terdahulu.
“Hari ini kita datang dalam kondisi yang serba tersedia. Sementara generasi awal hadir di tempat-tempat ini saat belum ada apa-apa. Maka tidak patut jika kita yang datang belakangan kehilangan etika, apalagi merasa lebih berjasa,” tegasnya di hadapan peserta Musda.
Ia mencontohkan secara reflektif bagaimana kenyamanan yang kini dirasakan kader dan pengurus sering kali melahirkan sikap tergesa dalam menuntut pelayanan, tanpa kesadaran sejarah perjuangan yang telah dilalui para senior. Menurutnya, sikap seperti itu merupakan indikator lunturnya adab dalam berorganisasi.
Ketua DPW juga mengaitkan pesan tersebut dengan pelajaran penting dalam sejarah Islam, khususnya kisah perang Shiffin, seraya mengingatkan agar kader Hidayatullah tidak terjebak pada kebiasaan menilai kualitas perjuangan generasi sebelumnya. Ia menegaskan bahwa menjaga etika kepada para pendahulu merupakan bagian dari integritas perjuangan itu sendiri.
Lebih jauh, Ketua DPW menegaskan bahwa jabatan struktural dalam organisasi bukanlah tujuan akhir, melainkan wasilah untuk mengekspresikan nilai-nilai iman secara nyata. Di hadapan para pengurus DPD yang baru dilantik, ia mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan sejati bukanlah posisi dalam struktur organisasi, melainkan kualitas iman dan kejujuran dalam berjihad di jalan Allah.
“Di akhirat tidak ada pertanyaan: apakah engkau DPP, DPW, atau DPD. Pertanyaannya adalah: apakah engkau beriman dengan benar dan berjihad dengan benar,” katanya.
Dalam kerangka itu, ia menjelaskan keterkaitan mendasar antara Islam, iman, dan takwa sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Menurutnya, konsep Islam kaffah, mukminuna haqqan, dan haqqa tuqatihi bukanlah istilah yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan nilai yang harus terimplementasi dalam seluruh aspek kehidupan.
Ia menegaskan bahwa kelahiran dan perjalanan Hidayatullah sejak awal diarahkan untuk mengejawantahkan nilai-nilai tersebut dalam bentuk gerakan peradaban Islam. Karena itu, visi membangun peradaban Islam dipahami sebagai upaya menghadirkan nilai iman dalam seluruh sendi kehidupan, yang pada hakikatnya adalah wujud Islam kaffah, takwa sejati, sekaligus jihad yang benar.
Menutup sambutannya, Ketua DPW juga menekankan pentingnya kedewasaan dalam berinteraksi dengan berbagai elemen umat dan harakah Islam lainnya. Ia menegaskan bahwa sikap tampil berbeda tidak boleh bermuara pada klaim kebenaran sepihak atau sikap merendahkan pihak lain.
“Hidayatullah menegaskan jati dirinya sebagai jamaatun minal muslimin. Karena itu, kader-kadernya tidak tumbuh dengan sikap ekstrem merasa paling benar dan menafikan yang lain,” pungkasnya.
Dengan penutupan ini, rangkaian Musda Gabungan Zona Luwu Raya yang diikuti lima DPD resmi berakhir. Selanjutnya, agenda Musda Gabungan Hidayatullah Sulawesi Selatan akan berlanjut ke Zona Ajatappareng pada 26 Desember mendatang, yang merupakan rangkaian terakhir Musda Sulsel, dan akan diikuti enam DPD, yakni Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, Enrekang, dan Tana Toraja.



