Saturday, January 31, 2026
HomeKolom KhususPojok KaderBelajar dari Nabi Zakaria

Belajar dari Nabi Zakaria

Oleh : Masykur Suyuthi*

Satu jenak, mari berkaca kepada Nabi Zakaria (semoga Allah senantiasa memberinya keselamatan selalu). Kisah tentang kemuliaannya berserak di berbagai surah dalam al-Qur’an. Seorang Nabi sekaligus ayahanda dari Nabiullah Yahya –alaihim as-salam. Zakaria juga menjadi pilihan Imran untuk menjaga putrinya, Maryam hingga kelak melahirkan Isa al-Masih, manusia pilihan Allah pula.

Kisah Nabi Zakaria beragam dalam al-Qur’an. Ada yang bercerita tentang kesabarannya yang bak batu karang dalam menunggu ketetapan Allah. Tentang tegarnya menghadapi gelombang ujian yang bertubi-tubi. Soal keajaiban doanya yang sarat dengan keyakinan akan Kuasa dan Kehendak Sang Pencipta. Dan pastinya tentang kualitas takwanya sebagai Nabi pilihan Allah. Ada ibadah yang tak pernah putus dan munajat tak henti di waktu-waktu sunyi.

Uniknya, keseharian Nabi Zakaria ialah “cuma” seorang tukang kayu. Dia menghidupi keluarganya berbekal perkakas tukang yang sederhana saja. Sebuah profesi dan pekerjaan kasar, bagi sebagian manusia. Orang bilang, derasnya keringat yang mengucur tak sebanding dengan rupiah yang didapatkan. Peluh yang meleleh bukan jaminan berapa yang didapat nanti. Untuk itu ada banyak profesi lain yang dianggap lebih mulia dan lebih hebat dari sekadar pekerjaan tukang kayu.

Namun, inilah keadilan Allah yang menilai manusia bukan dari sekadar tampilan fisik semata. Kemuliaan manusia tak diukur dari pekerjaan yang digeluti. Apalagi dari tebalnya isi kocek dan banyaknya jumlah saldo tabungan yang dipunya. Nabi Zakaria justru diabadikan dalam al-Qur’an, salah satunya, karena kesungguhannya dalam ibadah dan keseriusannya dalam munajat yang nyaris tanpa putus. Dia dipuji tersebab kualitas takwa yang terbukti. Bukan karena yang lain.

Allah berfirman: “(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria,” (Maryam [19]: 2)
Bahwa kucuran rahmat Allah niscaya sebanding dan sejalan dengan kualitas penghambaan dirinya. Inilah hakikat kemuliaan manusia.

Soalannya, adakah pekerjaannya setiap waktu mampu mengundang rahmat Allah? Ataukah justru gara-gara kesibukan itulah yang bikin dia kehilangan barakah-Nya.

Faktanya didapati, seringkali yang paling menyibukkan manusia dalam hidupnya adalah memikirkan sebagai apa saat bekerja. Semakin tinggi kedudukan seseorang rasanya makin terpandang. Bahkan sebagian orang rela berkorban apa saja hingga menciderai fitrahnya untuk meraih posisi dan status yang diinginkan itu.

Sebenarnya tak ada yang keliru dengan keadaan di atas. Selama ia memiliki kompetensi dan kapabilitas dengan jabatan atau pekerjaannya, maka tidak masalah atas harapan dan keinginan tersebut. Asal tentu dengan cara-cara yang jujur. Ia tidak boleh menipu atau menzhalimi orang lain hanya gara-gara kepentingan pribadi seseorang.

Berkaca kepada kisah Nabi Zakaria, patut diingat akan tujuan utama dalam hidup manusia. Pekerjaan dan kedudukan manusia hanyalah perantara untuk meraih yang lebih utama. Yakni sebagai amal shaleh dan meraup sebanyak-banyaknya barakah dan Rahmat Allah.
Akhir kata, semoga Allah senantiasa melimpahkan nikmat hidayah dan istiqamah berada di jalan juang tarbiyah dan dakwah hingga akhir hayat nanti.

*Masykur Suyuti (Anggota Komunitas Sahabat Puang Karua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Recent Comments