Saturday, January 31, 2026
HomeKolom KhususSpirit WahyuSpirit Wahyu: Lembut yang Menguatkan

Spirit Wahyu: Lembut yang Menguatkan

Oleh : Sarmadani Karani*

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِك فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

(QS. Ali ‘Imran: 159)

Tulisan ini bukan curahan perasaan, apalagi pembenaran diri. Ia sekadar ikhtiar berbagi satu ayat yang terus mengetuk kesadaran. Ayat yang mengajarkan adab memimpin, cara memikul amanah, dan bagaimana seorang pemimpin menjaga hatinya ketika tanggung jawab kian membesar.

Setidaknya, ayat ini saya tujukan pertama-tama untuk diri sendiri. Terlebih ketika amanah kepemimpinan diletakkan di pundak sebagai Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah. Wilayah yang luas, medan dakwah yang beragam, serta dinamika jamaah yang tidak sederhana membuat beban itu terasa nyata dan kian hari semakin berat.

Namun justru pada titik inilah wahyu hadir sebagai penuntun, agar satu hal mendasar tidak terabaikan, yaitu lembut dalam memimpin, tanpa kehilangan keteguhan dalam prinsip.

Dalam realitas organisasi, perbedaan pandangan adalah keniscayaan. Musyawarah tidak selalu berjalan mulus. Ada silang pendapat, ada emosi yang sesekali meninggi, ada kegelisahan yang sulit disembunyikan. Tetapi justru di ruang-ruang itulah kepemimpinan diuji. Apakah musyawarah menjadi sarana meredakan dan menyatukan, atau justru berubah menjadi arena saling menegaskan ego?

Sering kali, tanpa disadari, kita mengidentikkan ketegasan dengan suara keras, raut wajah tegang, dan sikap yang kaku. Kita mengira wibawa harus dibangun dengan jarak dan tekanan. Padahal, wahyu justru mengajarkan arah yang berbeda. Allah membuka ayat ini dengan pernyataan yang sangat mendasar:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka.”

Lembut, dalam perspektif Al-Qur’an, bukanlah tanda kelemahan. Ia adalah manifestasi rahmat Allah yang dititipkan kepada seorang pemimpin. Rasulullah ﷺ tidak memimpin dengan rasa takut yang mencekam, tetapi dengan kasih sayang yang menumbuhkan kepercayaan. Hati beliau hidup, dan dari kehidupan hati itulah umat bertahan, bahkan dalam situasi paling genting.

Ayat ini terasa semakin dekat ketika amanah kepemimpinan harus dijalani di tengah kompleksitas wilayah dan beragam karakter manusia. Di Sulawesi Tengah, dengan tantangan dakwah yang tidak ringan, wahyu ini hadir bukan sekadar sebagai penghibur, tetapi juga sebagai teguran yang jujur. Bahwa yang paling dibutuhkan dalam memimpin bukanlah kerasnya tangan, melainkan lembutnya hati.

Allah lalu mengingatkan dengan pernyataan yang sangat tegas sekaligus realistis:

“Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka menjauh dari sekitarmu.”

Banyak barisan perjuangan tidak runtuh karena kekurangan program, melainkan karena hilangnya rasa aman di sekitar pemimpinnya. Amanah tidak hancur karena miskin gagasan, tetapi karena hati tidak lagi dirawat dengan empati. Ketika seorang pemimpin menjadi sumber ketegangan, bukan ketenangan, maka jamaah perlahan menjauh. Mereka menjauh bukan secara fisik semata, tetapi secara batin.

Menariknya, Al-Qur’an tidak berhenti pada peringatan. Ia menawarkan jalan praktis melalui tiga laku kepemimpinan yang menjadi penyangga amanah.

Pertama, memaafkan (fa‘fu ‘anhum). Dalam gerak dakwah dan organisasi, kekeliruan adalah keniscayaan. Yang dibutuhkan bukan ketajaman menghukum setiap salah, melainkan kelapangan hati untuk menjaga agar semangat tetap hidup dan kepercayaan tidak runtuh.

Kedua, mendoakan (wastaghfir lahum). Di sini kepemimpinan naik kelas dari sekadar manajerial menjadi spiritual. Pemimpin bukan hanya pengarah langkah, tetapi penjaga hati. Ia membawa nama orang-orang yang dipimpinnya ke hadapan Allah, bukan sekadar ke meja rapat dan forum evaluasi.

Ketiga, bermusyawarah (washāwirhum fil amr). Musyawarah bukan hanya prosedur organisasi, melainkan adab kekuasaan. Ia mengajarkan bahwa amanah ini bukan milik pribadi, tetapi titipan yang harus dijaga bersama, dengan rasa saling percaya.

Namun setelah semua proses itu dijalani, Allah menutup ayat ini dengan ketegasan yang menenangkan:

“Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”

Di sinilah seorang pemimpin belajar berdiri sendiri di hadapan Rabb-nya. Keputusan boleh diambil dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian, tetapi hasilnya harus diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Tawakal bukan pengunduran diri dari tanggung jawab, melainkan penyerahan total setelah ikhtiar terbaik ditunaikan.

Dan Allah menutupnya dengan janji yang agung:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Dicintai Allah adalah bekal terkuat dalam mengemban amanah kepemimpinan. Bukan pujian manusia, bukan tepuk tangan forum, tetapi keyakinan bahwa setiap langkah yang ditempuh dengan kelembutan, musyawarah, dan tawakal berada dalam penjagaan dan cinta-Nya.

Maka ayat ini menjadi suntikan ruhani yang terus diulang dalam batin. Agar hati tetap lembut ketika memimpin, ucapan tetap terjaga ketika berbeda, dan keputusan tetap bersandar kepada Allah, meski beban amanah terasa semakin berat.

*Sarmadani Karani, S.E., Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_imgspot_img

Terbaru lainnya

Recent Comments