Oleh: Ahmad Sabil*
Kepemimpinan selalu tampak indah ketika dibicarakan, tetapi terasa berat ketika dipanggul. Banyak orang menginginkannya, tidak sedikit yang mengejarnya, namun hanya sedikit yang benar-benar siap menanggung konsekuensinya.
Dalam pandangan Islam, kepemimpinan bukan sekadar posisi struktural atau jabatan administratif, melainkan amanah peradaban yang sebuah tanggung jawab spiritual dan sosial yang berakar pada tauhid.
Seorang pemimpin tidak berdiri di atas manusia, apalagi di atas nilai. Ia justru berdiri bersama nilai, mengarahkan manusia menuju kebaikan yang diridhai Allah. Di titik inilah kepemimpinan kehilangan makna jika dipisahkan dari kesadaran pengabdian.
Al-Qur’an sejak awal menegaskan bahwa kepemimpinan adalah bagian dari misi penciptaan manusia:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Ayat ini menempatkan kepemimpinan bukan sebagai hak istimewa, melainkan mandat ilahiah. Manusia diberi amanah untuk mengelola bumi, menjaga keteraturan, dan menegakkan nilai-nilai kebenaran. Maka, setiap bentuk kepemimpinan, sekecil apa pun ruangnya, pada hakikatnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Kesadaran inilah yang membedakan kepemimpinan dalam Islam dengan kepemimpinan yang semata-mata berorientasi kekuasaan. Ia tidak dimulai dari ambisi, tetapi dari tanggung jawab.
Pemimpin sejati bukanlah sosok yang meniadakan perbedaan, melainkan mereka yang mampu mengorkestrasi kehidupan. Mengorkestrasi berarti menyatukan potensi yang beragam, mengelola perbedaan dengan bijaksana, dan mengarahkan seluruh gerak menuju tujuan bersama.
Teladan paling nyata dalam hal ini adalah Rasulullah ﷺ ketika memimpin Madinah. Masyarakat Madinah adalah masyarakat plural—berbeda suku, latar sosial, dan keyakinan. Namun melalui Piagam Madinah, Rasulullah ﷺ menunjukkan kepemimpinan yang adil dan beradab. Persatuan dibangun bukan di atas pemaksaan, tetapi di atas kesepakatan nilai, keadilan, dan tanggung jawab bersama.
Inilah wajah kepemimpinan peradaban: kepemimpinan yang tidak memadamkan keragaman, tetapi menjadikannya kekuatan kolektif.
Selain mengorkestrasi, pemimpin juga dituntut mampu mengaransemen amanah. Artinya, menempatkan setiap orang sesuai dengan kapasitas, kompetensi, dan perannya dalam perjuangan. Kepemimpinan bukan sekadar membagi tugas, tetapi memastikan amanah jatuh pada yang layak.
Al-Qur’an mengingatkan secara tegas:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa: 58)
Rasulullah ﷺ mencontohkan prinsip ini secara konsisten. Amanah tidak diberikan karena kedekatan emosional atau popularitas, melainkan karena kelayakan. Khalid bin Walid diberi tanggung jawab militer karena kecakapannya di medan perang, sementara Mu’adz bin Jabal diutus sebagai pendidik karena kedalaman ilmunya.
Di sinilah kepemimpinan Islam menunjukkan wajah profesionalitasnya, yaitu profesionalitas yang tidak terlepas dari ketakwaan.
Kepemimpinan Rasulullah ﷺ bukan hanya soal sistem dan struktur, tetapi juga seni ruhani. Seni memimpin bukan sekadar kecakapan teknis, melainkan buah dari kebeningan hati dan keikhlasan niat. Pemimpin yang lahir dari proses tarbiyah akan memimpin dengan keteladanan, kesederhanaan, dan kesediaan berkorban.
Ia tidak membangun kultus pribadi, tetapi menumbuhkan kesadaran kolektif. Ia tidak mengumpulkan loyalitas, tetapi menguatkan nilai. Kepemimpinan seperti ini tidak memusat pada figur, melainkan pada misi dakwah.
Rasulullah ﷺ memimpin dengan akhlak sebelum aturan, dengan kasih sayang sebelum ketegasan. Al-Qur’an menggambarkan hal ini dengan indah:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka…” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Pada akhirnya, kepemimpinan sejati bukan diukur dari seberapa besar kekuasaan yang diraih, tetapi ke mana umat diarahkan. Kepemimpinan dalam Islam tidak berhenti pada keberhasilan duniawi, tetapi mengantarkan manusia menuju keselamatan akhirat.
Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan penuh tanggung jawab:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, kepemimpinan dalam Islam adalah jalan dakwah, sarana ibadah, dan instrumen pembangunan peradaban. Ia menuntut keikhlasan, kesabaran, dan komitmen nilai. Kepemimpinan seperti inilah yang tidak hanya menggerakkan manusia, tetapi juga membangunkan jiwa, mengantar umat dari kegelapan menuju cahaya, dari kekacauan menuju keteraturan, dan dari dunia menuju ridha Allah.
*Ahmad Sabil, Sekertaris DPD Hidayatullah Makassar



